The Boy, The Man, And The Bike, Adikrisna Riedho & Red-Hawk

In Guest Writer, IAmWhatIRide, [StRiders]

Some said, ride and being a motorcyclist are sign of masculinity. Maybe because of its glorified spectrum of speed, roughness and dynamics that motorcycle share its trait to another “manly” activities like, err, bull-riding?

Honestly, it raise a question for me : “Were any male motorcyclist was a man?“, or “Can motorcycle transforming a boy into a grown up man?

Well, let’s ask some male motor…No, maybe it’s better ask THE MOTORCYCLE itself. For this post, I finally reached a red Zenki CBR150, that willing to share his opinion and stories about the tale of manhood with its ex, Adikrisna Riedho…

Ada yang bilang, mengendarai dan menjadi seorang pengendara motor adalah ciri-ciri akan maskulinitas. Mungkin karena spektrum-spektrum menarik seperti kecepatan, kekasaran dan dinamika yang motor pancarkan seperti kegiatan “pria” lain seperti misalnya, err, karapan sapi?

Jujur, itu membuat saya bertanya-tanya : “Apakah semua pengendara motor laki-laki adalah pria?”, atau “Apakah motor dapat membawa seorang anak lelaki menjadi pria dewasa?”

Baiklah, saatnya menanyakannya pada beberapa pengendara motor…Tidak, mungkin lebih baik jika menanyakannya pada MOTOR ITU SENDIRI. Untuk post ini, saya akhirnya dapat menanyakannya pada sebuah CBR150 Zenki merah, yang mau membagi opini dan kisahnya akan kisah pencarian kedewasaan bersama mantannya, Adikrisna Riedho….

Adikrisna Riedho Red Hawk CBR150R Red shootupnride.com

“It’s hard to live as an imported bike in Indonesia. Some of us maybe taken by unknown rich folks and treated as a trophy of his successful life. Some of us maybe chosen as a partner for enthusiastic motorcycle rider that know to exploit our qualities.”

“But, mostly for our kind actually spending our time waiting patiently at showroom, thanks to high import-tax that make us unreachable for majority of Indonesian. I didn’t surprise that our fate maybe becoming a pile of dust and rust expensive machine than a dashing sport bike that our designer hope to be.”

“Sulit sebenarnya hidup sebagai motor impor di Indonesia. Beberapa dari kami mungkin diambil oleh orang-orang kaya dan dianggap sebagai trofi akan keberhasilan hidupnya. Beberapa dari kami mungkin dipilih sebagai partner akan pengendara motor yang antusias serta tahu bagaimana mengeksploitasi kualitas kami.”

“Namun, kebanyakan dari kami sebenarnya menghabiskan waktu menunggu dengan sabar di showroom, berkat pajak impor tinggi yang membuat kami sulit dijangkau mayoritas rakyat Indonesia. Aku tidak kaget jika nasib kami akan mungkin berakhir sebagai mesin mahal yang berselimut debu dan karat, bukan sebagai motor sport keren seperti yang desainer kami inginkan.”

Adikrisna Riedho Red Hawk CBR150R Selfie shootupnride.com

“March 2006, something important happened to me. Our landlord said finally I will be taken, but it got good and bad news.”

“Okay, let’s start with the bad news first : I’m his first. Bike. Well, glad being the first to take his virginity of motorcycle. But man, a boy who start his quest of motorcycle with CBR150. Think about it.”

“And the good news? I’m chosen because this boy thinks I qualified as his first : Good looking, fast and respected heritage, and ehem, easier to maintain than my 2-stroke contemporaries…Actually that’s the bad news : This boy called Edo, was a naïve one. CBR150 easy to maintain? Haha…”

“For the top of the cherry? I baptised with a name, Red Hawk. Raison d’être? My body colour and he just like that flying predator. Simply as that. What a naïve…”

“Maret 2006, sesuatu yang penting terjadi dalam hidupku. Tuan tanah kami memberitahukan bahwa akhirnya aku akan diambil, namun ditemani berita baik dan buruk.”

“Okay, dimulai dengan berita buruk dahulu : Aku adalah motor pertamanya. Well, senang bisa menjadi yang pertama mengambil keperjakaan akan kehidupan motornya. Tapi, seorang anak lelaki yang memulai pencarian jati diri motornya dengan CBR150. Coba pikiran tentang itu.”

“Dan berita baiknya? Aku terpilih karena anak ini pikir aku cocok sebagai partner pertamanya : Tampan, kencang, punya sejarah yang dihormati, dan ehem, mudah untuk dirawat dibanding sportbike 2-tak…Sebenarnya ini berita buruk : Anak yang dipanggil Edo ini, adalah seorang bocah yang naif. CBR150 mudah untuk dirawat? Haha…”

“Untuk puncaknya? Aku dibaptis dengan nama, Red Hawk. Raison d’être? Warna tubuhku dan karena dia menyukai predator terbang itu. Simpel bukan? Dasar naif…”

Adikrisna Riedho CBR150 Red Honda shootupnride.com

“So, how’s our 1st year relationship was? Pretty bland honestly. Even I finally starting to firing my engine with someone, it’s just for commuting and a bit speeding on Jakarta hectic traffic. But that changed on the 2nd year, when Edo decide that I accompanying his college years at Bandung. Finally, the boring years was ended!”

“Jadi, bagaimana tahun pertama hubungan kami? Cukup datar sebenarnya. Meski akhirnya mesin 150cc-ku dinyalakan oleh seseorang, itu hanya untuk jalan-jalan dan sedikit berlari di jalanan sibuk Jakarta. Namun akhirnya itu berubah di tahun kedua, ketika Edo memutuskan bahwa aku akan menemani hari-harinya sebagai mahasiswa di Bandung. Akhirnya, tahun-tahun membosankan berakhir!”

Adikrisna Riedho CBR150 Red Honda shootupnride.com

“Why? Hmm, it’s because Edo finally meet another enthusiast motorcycle gearhead, like Rangga and BabyBlade. Not everything born perfect, so Edo also starting to personalize me for fitting his riding style, and his knowledge about motorcycle also getting better and better everyday…”

“Mengapa? Hmm, itu karena akhirnya Edo menemukan enthusiast motorcycle gearhead lain, seperti Rangga dan BabyBlade. Tidak semua terlahir sempurna, jadi Edo juga memulai untuk memodifikasi diriku untuk menyesuaikan dengan gaya ridingnya, dan pengetahuan akan motornya juga semakin dalam hari ke hari…”

CBR Club Bandung Adikrisna Riedho shootupnride.com

“Oh, you ask about masculinity of male rider whatsoever to me, Reyhan? Well, I think masculinity trait of male motorcyclist from Edo starting when he drop his selflessness, that I remember happened on our 1st group touring. No more “Only me and my bike, alone” as our riding mantra, but trying to being a singular group…”

“Oh ya Reyhan, kau bertanya soal maskulinitas akan pengendara motor bla-bla-bla padaku? Well, aku rasa sifat maskulin pengendara motor pria pada Edo dimulai saat dia melepaskan jubah egoentris-nya, terjadi pada touring grup pertama kami. Tidak ada lagi “Hanya aku dan motorku, sendiri” sebagai mantra riding kami, namun berpikir untuk menjadi sebuah kesatuan…”

CBR Club Bandung Adikrisna Riedho shootupnride.com

“…And harmonizing our 150cc DOHC engine to roar the fabled “machine orchestra”, an experience that affect for Edo so much, he start to think that lies more than riding on motorcycle. Talking about group, I also remember when Edo learn about being part of group, how to organize and socialize with another, that I think increasing Edo ability about teamwork.”

“…Dan mengharmonisasikan raungan mesin 150cc DOHC kami demi “orkestrasi mesin”, sebuah pengalaman yang berpengaruh kuat pada Edo, yang membuatnya berpikir bahwa ada yang “lebih” dibalik mengendarai motor. Bicara soal grup, aku juga ingat ketika Edo belajar menjadi bagian dari grup, bagaimana mengatur dan bersosialisasi dengan pihak lainnya, yang aku rasa menambah kemampuan Edo akan kerja-sama.”

Adikrisna Riedho Red Hawk CBR150 Cornering Subang shootupnride.com

“Ability…It brings my memories about our 1st accident. Not a nasty one actually, but appropriate for Edo to completing his manhood : Humility.”

“I think, “Real” men not just simply secure in their abilities, deeming himself more valuable or worthy, and place themselves in higher esteem than those around them. Just like his egocentric, Edo finally drop his prideful for being me, CBR150, owner, for gaining more knowledge from any experienced riders, especially about riding skills.”

“Kemampuan…Itu mengingatkanku pada kecelakan pertama kami. Tidak parah sebenarnya, namun cukup menyadarkan Edo demi menyelesaikan program “menjadi dewasa”-nya : Rendah hati.”

“Aku rasa, pria “sejati” tidak dengan enteng menjaga diri mereka dengan kemampuannya saja, menganggap dirinya lebih penting dan berharga, lalu menganggap mereka lebih terhormat dibanding orang disekitarnya. Seperti sifat egosentrisnya, Edo melepaskan kesombongannya sebagai pemilik diriku, CBR150, untuk mendapatkan lebih banyak pengetahuan dari pengendara berpengalaman lainnya, terutama soal teknik berkendara.”

Adikrisna Riedho Red Hawk CBR150 Gracia Lembang Subang shootupnride.com

“But Reyhan, it’s funny that the more I think Edo will complete his manhood with me, the more I feel the purity of naïve boy still being Edo’s passion about motorcycle. Especially when he grasped the freedom of life and the spirit to learn & experience something new, that I think, that’s what we pursuit from motorcycle life…”

“…And, sigh, that’s the sign of the epilogue of our stories, or dare I say, the end of our chapter of relationship. I didn’t remember, was because my puny and tired body can’t satisfy Edo’s desire of motorcycle, or he’s just too busy and thinking another important things beside motorcycle…”

“Namun Reyhan, lucu jika semakin aku berpikir Edo akan menyelesaikan proses kedewasaannya bersama diriku, semakin kuat aku merasakan kemurnian akan bocah naif yang menjadi bahan bakar Edo akan dunia motor. Tertuama ketika ia meraih kebebasan akan hidup dan semangat untuk belajar & merasakan hal-hal baru, yang aku rasa, itulah yang kita cari dunia motor…”

“…Dan, ugh, itu juga menjadi tanda akan epilog dari kisah kita, atau aku berani mengatakan, babak akhir dari hubunganku dengan Edo. Aku lupa, apakah itu karena tubuh mungil dan lelah-ku sudah tidak mampu memuaskan hasrat Edo akan motor, atau dia terlalu sibuk dan memikirkan hal penting lain dibanding motor…”

Adikrisna Riedho Red Hawk CBR150 shootupnride.com

“So…at the end, are my lovely owner finishing his puzzle of manhood and being a grown up male rider with its full-fledged masculinity? Nah. Never. I always remember Edo as a naïve boy, that always smile when starting my engine, speaking and showing his emotion and expression genuinely from his bottom of heart. Especially, when he met another rider”

“Hello, my name is Adikrisna Riedho, I passionate about motorcycle and this is my bike, Red Hawk”

“Yeah, just like a boy showing his favorite toys…Hey Edo, thanks for your trust to me for being your 1st bike, being your inspiration, and being the partner of our short yet sweet relationship. It’s been a hell of exciting ride boy!”

“Jadi…apakah pemilik tercintaku ini akhirnya menyelesaikan kepingan puzzle akan pencarian jati diri dan menjadi rider dewasa dengan segala maskulinitasnya? Tidak. Tidak akan pernah. Aku selalu mengingat Edo sebagai bocah naif, yang selalu tersenyum ketika menyalakan mesinku, menyatakan dan memperlihatkan emosi dan ekspresinya benar-benar dari hati yang terdalam. Terutama, ketika ia bertemu orang lain :”

“Hai, namaku Adikrisna Riedho, aku menyukai dunia motor dan ini motorku, Red Hawk”

“Yeah, seperti anak kecil memperlihatkan mainan favoritnya…Hey Edo, terimakasih akan kepercayaanmu padaku untuk menjadi motor pertamamu, menjadi inspirasimu, dan menjadi partner akan hubungan kita yang singkat namun indah. It’s been a hell of exciting ride boy!”

Riedho90@Instagram

10 Comments

  1. kisah sama motor pertama yang bagus. dlu waktu smp mendambakan ni motor, eh pas kuliah akhr dapet juga mainan ini hehe

Submit a comment