Together We Grow – Bimo Wirafajar’s GS 250X, Juggernaut. Part 1

In IAmWhatIRide

Special Edition” is a rare badge thus not every motorcycle dared to wear one, especially on the tank. Hey, not everybody dares to wear a tattoo with that words on their belly right? In fact, I’ve never seen any.

But there’s a few motorcycle that dare and also fit to wear the badge. The one that belong to someone whom I consider as my own brother. Here’s story of Bimo, and Juggernaut, the special Thunder 250.

“Special Edition”, adalah sebuah lencana istimewa yang tidak sembarang motor berani memasangnya, apalagi di bagian tangki. Hey, tidak semua orang berani memakai tato di perutnya dengan tulisan “spesial edisyen” bukan? Buktinya, saya belum pernah lihat sekalipun.

Namun, ada beberapa motor yang selain berani, juga pantas untuk memakai lencana itu. Sebuah motor milik seseorang yang saya anggap adik sendiri. Here’s story of Bimo, and Juggernaut, the special Thunder 250.

Arai RX-7 RRV Corsair Bimo Wirafajar

For some people, perhaps there’s nothing really special with night riding. Or even to wear a dedicated gear as Arai and RS Taichi leather. Well, some others think that every moment on the motorcycle is special, Bimo is one of them. A special moment for him and his bike. Ah, this boy makes me ask myself, Am I consider my riding time is a special time?

Mungkin bagi beberapa orang, sekedar riding malam tidaklah banyak artinya. Apalagi repot-repot mengeluarkan full gear seperti Arai dan RS Taichi. Well, beberapa lainnya merasa setiap momen berkendara itu istimewa, Bimo salah satunya. Momen spesial untuknya dan motor spesialnya. Ah, sekarang saya jadi berpikir apakah saya sudah menganggap sesi riding saya istimewa?

Bimo Wirafajar Thunder 250 GSX Wes Cooley Juggernaut

How special is Juggie? Depends. A standard bike wouldn’t handle as precise as sports, and so a 250cc thumper motor perhaps wouldn’t make you thrilled inside your helmet. But what we have here is not what split-seated machines offer, it’s specialty: cruising comfort.Whether it’s a solo ride or a 2-ups. Moreover, aren’t special moments were better to share with a special company? Oh yeah as a Thunder 250 owner, I approved its comfort. You don’t trust me? ask my girl

Stop. I knew many of Striders here are lonewolves, I can tell by the dusty rear seat. So I wouldn’t torture more miserable souls around.

Seberapa spesialkah Juggie? Tergantung. Genre-nya yang standard bike memang tidak menjanjikan handling se-presisi sportbikes, begitu pula mesin SOHC silinder tunggal, jangan coba bandingkan dengan R25 yang baru keluar, kawan. Salah satu yang Juggie tawarkan tidak akan kita temukan pada motor-motor dengan split-seat. Hal yang sama juga jadi alasan ia memiliki dual shock di belakang. It’s specialty: Cruising comfort, baik sendirian maupun berboncengan. Lagipula, bukankah momen istimewa selayaknya dibagi dengan orang yang istimewa? Oh yeah, sebagai pemilik Thunder 250 saya meng-approve kenyamanannya, tanya pacar saya kalo kurang yakin.

Stop. Saya tahu banyak dari kalian Striders yang hidupnya kesepian saat saya lihat jok belakang yang berdebu.
Sudah, saya ngga mau menyiksa jiwa-jiwa malang disini lebih jauh.

Bimo Wirafajar Thunder 250 GSX Wes Cooley Juggernaut

Talking about comforts, doesn’t necessarily made Bimo’s warsuit as merely fashion statement. Compared to the newer generations of quarter liter machines sold here, Thunder 250 considered as the lightest and perfect for a city runner. As an urban commuter, agility is a must. Bimo chose TK aluminum rim over the stock iron rim and adds BT39 and S20 for a tighter grip. Drum brakes are unreliable on hectic traffic, a new set of discbrake is a wiser choice. And now, Juggie ready to rip the city.

There is something on Juggie that remind me of Rama’s Nightwish, that is both of them are heavily Japan influenced. The most visible: Hi-mounted exhaust. Ah Japanese, they even put a hi-mount on a Panigale. To have this, Bimo must amputate the original bracket and as seen, it’s worth.

When we thought ourselves special, we’ll do that others don’t to the smallest thing. Bimo ordered a bikini fairing directly from a Japanese website. And so with the clear brake light cover, this one from a local website though. I’ve seen a few Thunder 250 with LED’s on the rear. But over a clear cover? I’ve only seen Juggie.

Not special enough? wait..

Bicara soal nyaman, tidak lantas baju zirah yang Bimo kenakan jadi sekedar fashion statement. Dibanding mesin-mesin 250cc yang beredar 5 tahun belakangan ini, Thunder 250 termasuk paling singset, and it’s perfect for a city runner. Sebagai commuter kota, agility is a must, Bimo pilih TK Japan alumunium gantikan RK Excel bawaan, ditambah BT 39 dan S20 buat grip yang lebih presisi. Dan suspensi belakang Bitubo untuk sensasi riding yang lebih playful. Oh iya, denger-denger katanya kalo ngga pake RDB ngga keren ya? Terlepas dari jawabannya, yang jelas Thunder 250 rem tromolnya sekedar formalitas, alias ada pun ngga ngaruh. So be it, RDB set installed dan Juggie siap bermain di kota.

Ada hal di Juggie yang mengingatkan saya pada Nightwish-nya Rama, both of them are heavily Japan Influenced. Yang paling jelas: Hi-mounted exhaust. Bimo rela pangkas step belakang orisini demi masang DBS Titan. Well, di Jepang bahkan Panigale pun dibuat hi-mounted.

Saat kita merasa spesial, maka kita selalu mencoba lebih. Bimo tambahkan bikini fairing yang dia pesan dari jepang untuk Juggie. Serupa dengan mika bening yang juga beli online, tapi lokal, nevermind. Well, Thunder dengan LED brakelights saya sudah lihat berkali-kali, tapi yang nyala merahnya menembus clear cover? Saya hanya tahu Juggie. Paling ngga di Bandung.

Belum cukup spesial? Tunggu..

Bimo Wirafajar Thunder 250 GSX Wes Cooley Juggernaut

Juggie is not merely a commuter. Beside as a daily partner, Bimo trust Juggie for another not less important business, say: touring, trackday, and also being a bicycle race marshall. Did I forget something?

Ah, morning run. It’s not difficult to recognize Juggie from afar, especially with its final form.

Juggie bukan sekedar commuter. Selain partner keliling harian, Bimo percayakan Juggie untuk kebutuhan yang lebih prior, say: touring, trackday, juga ngawal balap sepeda. Did I forget something?

Ah, morning run. Tidak sulit mengenali Juggie bahkan dari jauh, terutama dengan final-formnya.

Bimo Wirafajar Thunder 250 GSX Wes Cooley Juggernaut

One thing I’m interest on Juggie is: It became special without losing its original form. With all the personalized change, we wouldn’t assume it’s a bike other than Thunder 250.

In IAMWHATIRIDE, SNR always tell how a rider’s identity mold on his ride. So we may say, how Juggie transformed are affected by the changes in Bimo. Curious? well, me too. But hold it until the next post. Later dude!

Salah satu hal lain yang menarik dari Juggie adalah, ia menjadi spesial tanpa kehilangan bentuk aslinya. Bahkan dengan semua ubahan yang dipersonalisasi untuk Bimo, orang tidak akan keliru menyangka Juggie sebagai motor selain Thunder 250.

Dalam IAMWHATIRIDE, SNR selalu membahas soal bagaimana identitas sang pengendara tertuang dalam motornya. Bagaimana Juggie bisa berevolusi tentu dipengaruhi pengalaman-pengalaman Bimo. Penasaran? saya juga. Tahan dulu sampai post berikutnya dari saya. Sampai jumpa!

36 Comments

  1. “I can tell by the dusty rear seat. So I wouldn’t torture more miserable souls around.”

    FAK

Submit a comment