Killing your expectations – How we roll on a NSR 150 feat Jayadi Niswantara

In lifestyle, Riding Story, The Crew, [StRiders]

I gotta be honest that reality are sometimes far from expectations. I was a happy go lucky guy, and probably I still found myself that way. Here is one of the reason why..

kadang kenyataan itu jauh dari harapan. Tapi untungnya, saya orang yang ngga khawatiran (tepatnya sih, bodo amat), dan mungkin sampai saat ini pun masih. Ini alasannya kenapa:

dxphone20170124_070955 as Smart Object-1 as Smart Object-1

I was in need to go to Cirebon for a family meetup, and for years I never go there by public transport. I don’t know why, but I never enjoy getting there by bus nor shuttle services. If didn’t ride, I drive myself. It’s just a matter of behavior, I guess.

And so for this trip, I try to do the similar thing. Lately the weather was fine, my mood goes up high, it’s gonna be a waste not to bring a camera on this ride. I seek one of the Striders with a flexible time, and gotcha: I have Jayadi Niswantara on the list.

Ceritanya begini, waktu itu saya harus pergi ke Cirebon buat acara keluarga. Selama bertahun-tahun saya ga pernah pergi kesana pake kendaraan umum. Entah kenapa, saya ga menikmati perjalanan kesana dengan bus atau layanan shuttle. Kalo ngga riding, ya saya nyupir sendiri kesana. Kayanya sih cuma soal kebiasaan.

Begitu pula dengan perjalanan kali ini. Belakangan cuaca sedang bagus-bagusnya, dan mood saya lagi oke, jadi bakalan mubazir kalau saya sampe ngga bawa kamera. Saya cari Strider yang punya waktu luang dan gotcha: tercatatlah nama Jayadi Niswantara.

jay

If there’s everyone will always remember about this guy: it’s his collected and calm appearance and behaving, which is true at most of time.

Kalau ada sesuatu yang setiap orang bakal ingat dari dia, bisa dipastikan itu adalah tampilan dan bawaannya yang kalem dan santai. yang pada kenyataannya dia hampir selalu begitu.

16110690_221450514929947_420069602802794496_n

Until.. of course, SNR brought another side of him. By seeing the picture above you may conclude he’s affected by us badly, but no, it’s just him being him. Let me tell you more about him for now.

Sampai.. tentu saja, SNR memunculkan sisi lain darinya. Melihat foto di atas, kamu mungkin menyimpulkan kalau dia terpengaruh banyak oleh kami, tapi sayangnya kamu salah. Itu kelakuan aslinya Jay (panggilan Jayadi). Biar kami ceritakan lagi soal dia.

15306059_291399927923257_7110131737904021504_n

It was 2010 when he owned his first NSR 150R which introduce him to performance riding, then he switched to many things.

Pada tahun 2010 Jay meminang NSR 150R pertamanya yang ngenalin dia ke performance riding. Lalu dia beralih ke banyak hal.

17596137_134113897123917_4329937997760823296_n

Like literally. See what I mean? And he rides quite everywhere..

Sebenar-benarnya banyak hal. Ngerti kan sekarang? Dan dia juga riding kemana aja.

18011564_466260490386877_7666199667658457088_n

Since he stayed in the outer ring of Bandung, it’s quite an effort to ride daily to the campus or the store where he worked part-timely. So basically he got used to face heavy traffic most of the time, but with a proper attitude like his, distances didn’t matters much. Though it’s nothing to compare with what a world traveler’s have to face, I know. But if one day he decided to do so, I know he’d do well, since he never hesitate to ride anywhere, he just ride. Up to the mountain..

Karena dia tinggal di sisi luar kota Bandung, untuk sehari-hari berangkat ke kampus ataupun toko tempatnya bekerja paruh waktu yang berlokasi tengah kota adalah perjuangan. Jadi pada dasarnya dia terbiasa menghadapi lalu-lintas yang padat hampir setiap saat, tapi dengan sikap yang proper seperti yang ia miliki, jarak bukanlah masalah. Walau memang ngga kaya tantangan yang harus dihadapi peturing kelas dunia ya. Tapi kalaupun suatu waktu Jay memutuskan untuk keliling dunia, saya tahu ia bakal mampu karena ia ngga pernah ragu untuk riding kemanapun. Mau naik ke gunung..

18012010_1888693868078274_1952588846835171328_n

.. or down to the beach. He can enjoy almost everything the road was given. Yes,I can hear lonely Striders screaming out there.. “enough..!!” right after seeing the picture above.

Those years of experience trying different wheels brought his character just like we saw now. He didn’t want to stuck to the technical aspect of riding of “how to ride fast” and “how to make our bike look good” as any of us had back then. He asked me which way to explore, and I suggested him to pick a stock reliable bike, and just ride it everywhere. See around, because riding is not only about you and your bike.

..ataupun turun ke pantai. Dia bisa menikmati apapun yang disediakan oleh jalur yang ia lewati. Iya, saya bisa dengar teriakan “Udah cukup!” dari Striders kesepian diluar sana sesudah liat foto di atas.

Pengalaman dari tahunan mencoba berbagai tipe motor membuat karakternya seperti yang bisa kita lihat sekarang. Ia ngga mau terjebak dalam sisi teknikal dari riding seperti “gimana cara bawa motor dengan cepat” ataupun “gimana biar motor nampak keren” kaya kita semua alami dulu. Dia sempat bertanya soal ke arah mana baiknya ia mengeksplorasi kehidupan permotorannya, dan saran saya sesederhana: pilih motor standaran yang cukup bisa diandalkan, dan pake aja kemanapun. Lihat sekeliling, karena riding ngga cuma soal kamu dan motormu.

jay2

And so he roamed quite well with his MC 41 named Annabelle, which was the one of the bikes he loved the most, since she broaden his horizon and stepped up his game. This intended shenanigan above might caused by us but also wouldn’t happen if it’s not for his 8 years of training and riding experience. He might look young, but he’s not a new kid on the block.

Dan dia beredar cukup puas dengan MC41nya yang ia namai Annabelle, yang merupakan salah satu motor yang paling ia sayang karena berjasa memperluas wawasannya dan meningkatkan kemampuannya. Perbuatan nakal di atas ini mungkin saja memang pengaruh dari SNR, tapi juga ga bakal terjadi jika bukan karena dari latihan dan pengalaman riding Jay selama 8 tahun. Ia mungkin nampak muda, tapi bukan rider pemula.

16110678_710536742461267_6088491878703955968_n

With his character involved, I’m pretty sure this trip is gonna be fun. Then Jay asked me to choose 1 of 2 rides he owned right now, since Annabelle were sold months ago. The choices are A stock engined 2004 Honda C100 and an 1997 NSR 150R he just picked up 2 weeks ago. Which one would you choose if you were me? Right, NSR all the way! Imagine running a lightweight rocket that sounds like angry bees, blasting mountain roads with smokes. And your adrenaline flows rapidly when the RC valve opened letting the motor screaming in high notes!

Now stop.

Dengan karakter yang ia miliki, saya cukup yakin perjalanan kali ini akan jadi seru. Kemudian Jay menawari saya untuk milih salah satu dari 2 motor yang sekarang dia punya sekarang, karena Annabelle terjual beberapa bulan lalu. Pilihannya antara Honda C100 tahun 2004 standaran atau NSR 150R yang baru dia beli 2 minggu sebelumnya. Yang mana yang kamu pilih kalau jadi saya? Yup, tentu NSR! Bayangin ngegeber motor sport ringan yang bunyinya kaya kumpulan lebah ngamuk, ngebeset jalanan pegunungan dengan asap. Dan adrenalin kita memuncak waktu RC valve-nya ngebuka bikin motornya teriak di nada tinggi!

Sekarang berhenti.

dxphone20170124_072742 as Smart Object-1 as Smart Object-1

I forgot to mention one thing: the motor is in a break-in state.

Now cry all you want.

While running a freshly assembled 2 strokes motor with 2-ups out of town sounds like a stupid idea, I see it as a chance to ride while embracing whatever may come. A test toward our own attitude on the road.

All the way uphill to lembang, we crawled 20kph, preventing the engine over heating. The only objects we passed along the way were bicyclists and pedestrian walkers. A torture indeed, ducking more than 30 kilometers of climbing slow to Tangkuban Perahu mountain road. The bright side was, not by many big vehicle that intimidates us on this route except on weekends. And after the peak, we can glide downhill without worrying the motor temperature gone mad.

A little more climbing before we enter Subang and happiness is waiting for us.

Saya lupa bilang kalau motornya masih inreyen.

Silakan menangis sepuasnya.

Walaupun riding boncengan keluar kota dengan motor 2tak yang baru dirakit itu kedengeran kaya ide tolol, saya melihatnya sebagai kesempatan untuk bisa berkendara dan menerima apapun yang bakal terjadi. Tes sesungguhnya akan sikap kita sendiri di jalan.

Sepanjang tanjakan menuju Lembang kami merayap 20 kpj supaya mesin ngga overheat. Obyek yang kami susul sepanjang jalan itu cuma pengendara sepeda dan pejalan kaki. Lumayan tersiksa juga, nunduk selama lebih dari 30km merayap menuju Tangkuban Perahu. Bagusnya, ngga banyak kendaraan besar yang mengintimidasi kami selama jalur ini karena bukan akhir pekan. Sesudah puncaknya, kami bisa meluncur cepat di jalan turunan tanpa khawatir temperatur mesin menggila.

Lalu menanjak lagi sedikit sebelum memasuki Subang dan kesenangan sudah menunggu.

IMG_0907 as Smart Object-1 small as Smart Object-1

Since I was the one who pulled the throttle from Bandung, I let Jay to have his session in Cikamurang.

Berhubung saya yang narik gas dari Bandung, saya biarkan Jay menikmati jatahnya di Cikamurang.

IMG_0917 as Smart Object-1 as Smart Object-1

It’s both awesome and painful to see so many smoke pouring from the exhaust. Sorry mother nature, we promised it wouldn’t be this bad after the break-in is done.

Cikamurang route quite spoiling us, in the long straightlines we can hit 110 kph. And all the way Cikamurang – Tomo – Palimanan – Cirebon was flat terrains and off cambers wide corner, nothing bothers much. And we arrived safely.

Not much I can tell about anything in Cirebon. Afterall, you guys wouldn’t want to hear about my personal things too much, I believe.

Rasanya mengagumkan sekaligus nyeri melihat banyak banget asap yang tersembur dari knalpot yang menempel pada mesin 90an ini. Maaf ibu pertiwi, kami janji setelah inreyen selesai ngga bakal separah ini.

Sepanjang rute Cikamurang kami dimanjakan, di lurusan panjangnya kami meluncur 110kpj. Sepanjang Cikamurang – Tomo – Palimanan – Cirebon terdiri atas jalanan datar dan belokan lebar off camber, ngga ada yang cukup sulit dan kami sampai dengan selamat..

Ngga banyak yang bisa saya ceritakan selama di Cirebon. Lagipula kayanya kalian ngga pengen baca soal hal pribadi saya terlalu banyak kan?

IMG_0964 as Smart Object-1 as Smart Object-1

The most interesting part is on the way back home. Just like on any stories I told you, I leave my expertise of missing the direction taking control the route we took.

“By getting lost, we found ourselves.” they said. Bye google maps, we’re going to find ourselves.

Early morning off from Cirebon we took the same road as we came in, Palimanan. But I choose to have an early turn: we head to Jatitujuh. And well, we didn’t regret our choice. Or my choice, to be exact. Since Jay surrendered to whatever my decision is. No regret, we rode just at the right time. If you see the first photo above, there’s green paddy fields, smooth straight road, and mount Ciremai the right side of us. What we supposed to say about that?

Bagian yang paling bisa dinikmati justru di arah jalan pulang. Seperti di cerita lain yang sudah-sudah, saya senang membiarkan keahlian saya akan kehilangan arah mengambil alih rute yang kami tempuh.

Katanya “Dengan kehilangan arah, kita menemukan diri”. Selamat tinggal google maps, kami akan menemukan diri kami.

Pagi buta kami beranjak dari CIrebon melewati sebagian rute yang sama, Palimanan. Lalu saya memilih untuk berbelok lebih awal, ke arah Jati Tujuh. Keputusan saya tepatnya, Jay lebih ke pasrah. Benar saja, kami berkendara di waktu yang tepat. Kalau kamu liat foto yang pertama di atas, nampak sawah hijau, jalanan lurus yang mulus, dan gunung Ciremai di kanan. Kami harus bilang apa lagi setelah disuguhi ini semua?

IMG_0978 as Smart Object-1 as Smart Object-1

And on this not-so-remote side of the province, or at least for us, we didn’t expect to see this kind of authenticity.

Dan di bagian dari propinsi Jabar yang ngga terpencil amat ini –paling ngga untuk kami–, kami ngga mengira bakal melihat keasrian macam ini.

IMG_0972 as Smart Object-1 as Smart Object-1

What comes to your head when you hear the name “Indramayu”? Hot asphalt of Pantura, Dangdut Koplo music, mango fruit? Same here. Well, this one is quite out from our expectation too.

Apa yang kepikiran saat mendengar nama “Indramayu”? Aspal panas Pantura, musik dangdut koplo, buah mangga? Sama. Yang kami dapat sekarang juga diluar dugaan.

IMG_0949 as Smart Object-1

I thought I would only see something like this from the work of Japanese photographers. A little insight: I love to see motorcycle photos from Japan and I love to recreate something similar with what we have here.

Saya kira pemandangan begini cuma bisa saya lihat dari karya fotografer-fotografer Jepang. Sedikit gambaran: saya suka melihat foto-foto motor dari Jepang sebagai referensi dan mencoba membuat sesuatu yang serupa dengan apa yang kita punya disini.

16464089_1006540939478639_3619194113695416320_n

It seems that Jay is interested in taking behind the scenes photos.

Don’t feel amazed yet, this is not the best part of our trip. Going on deeper before back on the Cikamurang route again, comes another challenge. We got no intention of playing dirty at first. But since a 2-ups on an NSR mean getting the ground clearance even lower, we were snag on the obstacles. The pipes stuck at a rock, which made us think that one of us should be off from the bike.
Nampaknya Jay senang mengambil foto-foto behind the scene.

Jangan dulu tercengang, ini bukan bagian terbaik dari perjalanan ini. Menembus lebih dalam sebelum kembali ke rute Cikamurang, muncullah tantangan baru. Pada awalnya kami ngga kepikiran buat main jorok. Tapi berhubung boncengan di NSR artinya nurunin ground clearance lebih ceper lagi, kami kandas. Lambung knalpot nyangkut di batu, yang bikin kami mikir kalau sebaiknya salah satu dari kami perlu turun dari motor..

1485308918184 as Smart Object-1

So one can have fun, and the other make a good picture of it!

Jadi yang satu bisa bersenang-senang, dan satunya lagi ngambil foto yang cakep!

NEZUMI as Smart Object-1

Too lazy to get the camera out of the bag, we did it all on phone. It’s amazing how a phone camera can do these days.

Berhubung terlalu malas buat ngeluarin kamera dari tas, kami ambil ini semua pake handphone. Agak kaget juga ngeliat kemampuan kamera HP jaman now.

1485308918330 as Smart Object-1 as Smart Object-1

And doing dirty things on a 20 years old sportbike? It’s priceless.

Okay, enough. We didn’t want this bike broke down before we got home, afterall.

Dan main jorok dengan sportbike yang udah berumur 20 tahun? tak ternilai.

Oke cukup, kami juga ngga mau motor ini bubar sebelum kami sampai rumah.

16123235_740223482798902_3656615914637361152_n

Our way back home turned out leading us to the same route as before, just a bit ahead of Cikamurang. Feeling a quite exhausted after the dirty job, we decided to take a break on a kiosk. Where turned out we found something interesting.

Jalur kembali kami ternyata mengarah ke rute yang sama saat pergi, hanya sedikit lebih awal, sebelum Cikamurang. Merasa lelah setelah main jorok, kami beristirahat di sebuah kios. Dimana kami menemukan sesuatu yang menarik.

IMG_0928 as Smart Object-1 as Smart Object-1

The kiosk owner has mongooses as pets. They’re healthy, well fed, and routinely brought to the weekly gathering of mongoose-enthusiasts in Subang city.

Pemilik kiosnya memelihara luwak. Sehat, gemuk, dan rutin diajak ke kopdaran grup pecinta Luwak di Subang. Ada lho..

dxphone20170125_085856 as Smart Object-1 as Smart Object-1

Jay seems wanted to adopt one. After he knew a young mongoose may worth 5 million rupiahs each. Kidding. Jay love animals. He had cats, dogs, gerbils, rabbit and even a guinea pig at his house.

After some good instant noodle break. We decided to crawl back home. Yes, it’s a long uphill before we enter Bandung. You can imagine the same thing as the beginning of this story, with an extra, overheat. Thank god nothing bad happened to the piston.
Yeah, 2 strokers know how nasty it is to get your piston jamming on a break-in.

Last words from us, don’t, just don’t ever try to follow what we did on tight budget and time. We’re pretty lucky this time, but don’t expect same thing happen to you. Because every journey, have their own story. Dhey and Jay out!

Jay nampaknya ingin mengadopsi satu. Setelah dia tahu harganya bisa sampai 5 jutaan. Bercanda. Jay memang cinta binatang. Ia pernah punya kucing, anjing, kelinci, hamster dan juga marmut di rumahnya.

Setelah rehat mie instant, kami putuskan untuk merayap kembali ke Bandung. Iya, kami kembali melewati tanjakan panjang sebelum memasuki Bandung. Bayangkan kembali saat yang sama seperti saat kami keluar Bandung di awal cerita ini, tambahkan satu hal: overheat. Syukurlah ngga terjadi apa-apa dengan pistonnya. Para penggemar 2 tak mungkin tahu gimana rasanya kalau mesin sampe ngejim pas inreyen.

Pesan terakhir dari kami, jangan, pokoknya jangan mencoba apa yang kami lakukan dengan biaya dan waktu yang pas-pasan. Kali ini kami cukup beruntung, tapi jangan ngarep hal serupa bakal terjadi padamu. Karena tiap perjalanan, punya ceritanya masing-masing. Nasibmu bisa beda. Dhey dan Jay pamit!

1 Comment

  1. Emang paling bisa ya SnR kalo bikin striders ngeluarin sisi ‘nakal’nya hehehe…

    Btw, kayaknya saya juga lagi ngalamin periode kayak mas Jay ini, jadi lebih kalem.. atau lebih tepatnya pengen lebih kalem kalo di atas motor….. Lebih pengen banyak2 inget anak istri kalo lagi riding…..

    pengennya sih gitu, cuma kadang kalo di jalan ketemu sesuatu yang menggugah jiwa, suka lupa diri, lupa anak istri dan lupa isi dompet….:)

Leave a Reply to Khoirul Ibat Cancel reply