STRIDERSPLAY: BALI QUICKIE

In lifestyle, Random Thought, The Crew, [StRiders]

One of the best experience I had on working Shootupnride project is having wonderful striders friend out there. I believe the relationship inside SNR wouldn’t be only as writers and readers right from the beginning. And I wasn’t wrong. One of the prove is when I visited Bali last month for a friend’s wedding, I also set a meet up with some. I contacted Rajiv, Moong (Antonius Rangga)and SJbali. Even I’m not there for the sake of riding, I know I just can’t escape the reality of who I am : a rider.

Salah satu pengalaman terbaik dalam project Shootupnride adalah mendapatkan teman-teman Striders dimana-mana. Sejak awal SNR berjalan, saya percaya hubungan di dalamnya ngga bakal sebatas penulis dan pembaca saja. Dan prediksi saya tidak salah.

Terbukti saat mengunjungi Bali akhir di tahun 2015 kemarin untuk menghadiri resepsi pernikahan seorang teman, saya tidak lupa membuat janji untuk bisa bertemu dengan Rajiv, Moong (Antonius Rangga) dan SJBali. Walau tujuan utama kesana bukan untuk riding, saya tahu tidak mungkin mengingkari kenyataan bahwa saya seorang rider.

http://shootupnride.com/wp-content/uploads/2016/01/Dhey-Moong-ZX636-Mandara-1.jpg

Moong said if he can’t accompany me in Bali during the time I visit, I can take Freya for a ride while he’s away, but I must bring my helmet since he got no spare. I always knew that motorcycle is always been something close to our heart, thus we’re not easily lending it to someone we’re not fully put our trust (especially when it costs hundreds of million Rupiahs). And he let me stay overnight at his place, even drive me to the airport the next day!

This is getting suspicious.

Moong berjanji kalau dia tidak sempat menemani selama saya di Bali, Freya boleh saya bawa jalan-jalan, asalkan bawa helm sendiri karena ia tidak punya helm cadangan (lagipula, untuk sebagian dari kita, helm itu seperti celana dalam. Personal). Saya sadar motor selalu menjadi sesuatu yang begitu spesial bagi enthusiast, maka kita ngga dengan mudah meminjamkannya pada orang yang tidak betul-betul kita percaya (terutama yang harganya ratusan juta). Moong bahkan bolehin saya menginap di rumahnya, nganter ke bandara pula.

Saya. Jadi. Curiga.

http://shootupnride.com/wp-content/uploads/2016/01/Dhey-Moong-ZX636-Mandara-2.jpg

In Bali I rode Rajiv’s Black Pearl, Kintamani-Ubud back and forth. Thumper’s torque, chilling mountain air, tight curves, and a tank of free gasoline are always my favorite. Oh, if only I bring any camera with me.

Too bad I can’t meet SJBali since he was busy that day, and I was not staying in Bali for enough time. The day before I headed home, I met Moong as he picked me up in Ubud to stay over in his house which nearer to the airport (I was relieved he didn’t asked me for a dinner.lol). Beside his ‘Pipu’ stickers, he gave me an hour ride from Ubud to Nusa Dua. Too bad it was too dark, and ZX-6R’s headlight is not even close to impressive on this Bali road. Plus, it was like 20 times I found dogs having their relax time on the tarmac along the way. Welcome to Bali.

Tanpa diniatkan, di Bali saya mencicipi Black Pearl milik Rajiv bolak-balik Kintamani-Ubud demi bantu-bantu event nikahan yang disebut diatas tadi. Perpaduan torsi dari thumper, udara pegunungan yang sejuk, kelokan sempit, dan bensin gratisan selalu jadi favorit saya. Sayangnya saya ngga bawa kamera.

Saya ngga sempat jumpa dengan SJBali karena ia sibuk hari itu, dan waktu saya di Bali sangat terbatas. Semalam sebelum pulang, Moong jemput saya (untung ga diajak dinner juga). Dengan Freya saya bonceng dia dari Ubud ke Nusa Dua, rumahnya. Penerangan jalan yang kami lewati pas-pasan atau mungkin memang saya yang rabun. Tapi lampu ZX-6R emang ga kaya lampu stadion. Hampir 20 kali saya berkesempatan menggilas anjing-anjing yang tengah bersantai di tengah jalan. Ya, ini khasnya Bali.

http://shootupnride.com/wp-content/uploads/2016/01/Dhey-Moong-ZX636-Mandara-3.jpg


On my first time riding on Mandara toll road, I was enchanted by the scenery I never had anywhere before on a motorcycle. The night air breezed, escorting the sea scent on my breathe, The lights flickering across the sea beside us. Sounds of seawave crashing and the melody of Freya’s 4 cylinders reverb along the sidewall. All this sensation hit my soft spot as an urban kid. This time I can’t ask for more. I glide 70kph through it, no need to rush. This is ecstatic.

While I’m busy at it, Moong was also busy with his well-known skill: Selfie-stick photographing on the bike from the back seat. And after a bit of edit, as action cams are not the best choice for lowlight, this is what we get. You can see our ear to ear grin! Thanks for the experiences, Bali!

Ini pengalaman pertama riding di jalan tol Mandara, saya terpikat oleh pemandangan yang belum pernah saya temui sebelumnya diatas 2 roda. Udara malam mengajak serta aroma laut kepada tarikan nafas saya, lampu berkelip di sebrang laut yang terhampar di sisi kami (bokehlicious, mengingat mata kanan saya minus 2.25).
Bunyi debur ombak bersama melodi gasingan 4 silinder dari Freya bergaung di dinding pembatas jalan. semua sensasinya intens menyerang titik lemah saya sebagai anak kota yang jauh dari laut. Saya ngegas konstan di 70kpj, ga perlu buru-buru. Ini nagih.

Disaat saya sibuk terkagum-kagum, Moong di jok belakang juga sibuk dengan kemampuan utamanya: berfoto dengan tongsis di atas motor. Setelah sedikit edit, nginget action cam bukan pilihan terbaik buat lowlight, ini hasilnya. Kalian bisa lihat kami nyengir di balik helm. Terima Kasih Bali!

10 Comments

Leave a Reply to Khoirul Ibat Cancel reply