Stridersplay: Dry and dusty Cikamurang

In [StRiders]

Since Shootupnride project were born, we encounter many new experiences on our way. One of the best of all is having new friends whom interested in our work: riding and visualizing the experience through photos and stories. And by that we meant you: STRIDERS. Today’s story is about how we Striders having a little fun.

It was not long ago, I headed out to our Strider bud, Rizki’s wedding. It was held on Majalengka, about 120 kilometers out of my town Bandung (via Cikamurang). Since our operational cub’s condition were far than reliable, I ride Panji’s MC41 Kuro, along with me my girl Uie which claimed the rearseat. And also one of Rizki’s partners in crime, Firly brought his KR-150 Tsunade.

On the way to our destination, we didn’t take any pictures since our time is tight and we just wanna ride more than anything else. We focused on giving the proper treatment to the throttle-itch on our right hand. Same thing applied when we arrived on the destination, no pictures of Rizki and his bride Nisa. I’ve experienced being a wedding photographer once, and I know how annoying guests with cameras are. We insisted to not be one.

Sejak proyek Shootupnride lahir, kami menemui banyak pengalaman baru. Salah satu yang terbaik adalah mendapatkan teman-teman baru yang tertarik dengan cara kami bekerja: Berkendara dan memvisualisasikan pengalamannya lewat foto-foto dan cerita. Dan yang kami maksud adalah kalian: striders. Cerita kali ini adalah tentang bagaimana kita Striders sedikit bersenang-senang.

Belum lama ini, saya berangkat ke resepsi pernikahan salah satu teman kita, Rizki. Resepsinya di Majalengka, jadilah saya riding sekitar 120 Km via Cikamurang. Berhubung Anisetta kondisinya jauh dari bisa diandalkan, maka kali ini Kuro, MC41 punya Panji mewakili pemiliknya mengantar saya kesana. Bersama saya, jok belakang diisi oleh Uie sang pacar. Turut hadir pula salah satu partner in crime Rizki, Firly dan KR150-nya, Tsunade.

Kami tidak mengambil foto di perjalanan mengingat waktu yang terbatas, dan moodnya memang sedang total untuk riding. Fokus sepenuhnya kami tujukan kepada tangan kanan yang gatal ingin ngegas. Begitu pula di tempat tujuan, ngga ada foto Rizki dan istrinya, Nisa yang kami ambil. Saya sempat merasakan jadi wedding photographer dan tahu banget betapa mengganggunya tamu yang membawa kamera. Kami ngga mau jadi salah satu pelakunya.

rizki the journey

To compensate, I give you the couple’s photo before they wed. I’m honored to get their trust to take their pics which they put at the entrance on the venue.

Sebagai gantinya, ini ada foto mereka sebelum menikah. Iya, saya dipercaya buat membuat foto ini, yang mereka taruh versi cetaknya di pintu masuk gedung resepsi.

rizki hold hands

Well, congratulations for not getting asked “when are you going to get married?” anymore, buddy!

Selamat, kamu sudah terbebas dari hujan pertanyaan “kapan kawin?” Ki!

IMG_0056

On the way back the weather is just so bright and the flat terrain of Cikamurang dehydrated us more than usual. We decided to take a rest if we find an interesting place. Afterall, Uie need some break after hours spanked by MC41’s rear seat. Not forget to mention to take some photos, since this is Firly’s first trip on this route. I told him to asked for a stop if he find an ideal spot. But apparently, a tree shade near the dusty road with passing trucks is not even close to being proper.

Sepanjang jalan pulang cuacanya begitu cerah dan kontur Cikamurang yang datar membuat kami kegerahan lebih dari biasanya. Kami putuskan untuk beristirahat jika menemukan tempat yang cocok. Lagipula Uie perlu istirahat setelah berjam-jam duduk diatas jok belakang MC41 yang lebih mirip kursi kayu daripada sofa. Juga ngga lupa buat foto-foto, nginget ini trip pertama Firly lewat rute ini. Saya bilang berhenti saja langsung kalau kira-kira nemu tempat yang pas. Tapi nampaknya diam di bayangan pohon di jalanan berdebu dengan banyak truk lalu-lalang bukan tempat yang enak.

IMG_0087

Even we were passing the same road before, it’s just kinda difficult to remember any good spot to stop and shoot. It seems when it comes to ride, we just want to.. ride. As someone who loves both riding and photography at the same time, this is quite a dilemma. On the nearest corner with clear visual, we take another stop, though.

Walaupun kami melewati rute yang sama saat berangkat, tetaplah sulit untuk mengingat spot yang bagus untuk berhenti dan berfoto. Kayanya saat riding, kita memang pengen.. riding aja. Sebagai penyuka riding dan fotografi, ini jadi dilema. Akhirnya di tikungan dengan pemandangan yang relatif bersih, kami berhenti.

IMG_0103

It is a thing to admit that every Striders is craving for a good picture of themselves riding. To randomly throwing speed into the corner and later ask your friend wildly snapping were not the best idea to do. The road is never safe, remember? Even at this session, a group of local youngsters watched us curiously. Whether just to make sure that nothing bad happen around their neighborhood, or just wondering what are we doing.

Perlu diakui kalau setiap Strider ingin punya foto bagus saat mereka riding, dan seenaknya narik gas di tikungan lalu minta temanmu asal jepret bukan ide yang bagus. Ingat jalanan ngga pernah aman? Bahkan di sesi ini, sekelompok pemuda lokal menonton kami dengan penasaran. Entah sekedar memastikan ga ada hal buruk terjadi di lingkungan mereka, atau cuma pengen tahu kami ngapain.

IMG_0113

It’s kind of discomforting at first, but since we did nothing wrong and had no bad intentions, why worry? And actually, when you do it right, it’s more like an entertainment. There is a certain charm for someone who really put themselves into riding and not just bluntly sitting on the rolling machine.
Perhaps we should sell some tickets?

Awalnya ngga nyaman sih, tapi berhubung kami ngga punya niat buruk, kenapa khawatir? Dan sebenarnya, saat dilakukan dengan benar, ini seperti hiburan gratis buat mereka. Ada pesona tertentu saat seorang rider sungguh-sungguh memfokuskan dirinya berkendara dan ngga cuma duduk thok diatas mesin yang melaju.
Mungkin kami perlu jual tiket?

IMG_0324

Anyway, we crawled again until we found a quite pleasant spot to.. have some coffee. It was still halfway distance to home and so do the our butt’s thickness. It’s a small kiosk around a wide corner, with not many trees around. Perfect!

Anyway, kami beringsut kembali sampai menemukan lokasi yang cukup representatif untuk.. minum kopi. Masih setengah perjalanan menuju Bandung, dan tinggal setengah pula ketebalan pantat. Kami beristirahat di sebuah warung di pinggir tikungan lebar, tanpa banyak pohon di sekelilingnya.

IMG_0129

While we wait for the coffees we ordered, it seems Firly just can’t hold his urge to provoke Rizki (and perhaps other striders too) with his photos. I really can’t think about Rizki’s face when he checked his phone.

Don’t mind the chicken though, perhaps it was just curious.

Sambil menunggu kopi yang kami pesan datang, nampaknya Firly ngga tahan untuk ngomporin Rizki (dan mungkin Striders lain juga) dengan fotonya. Saya ngga bisa bayangin ekspresi wajah Rizki saat dia ngecek handphone-nya.

Jangan pikirin ayamnya, mungkin dia cuma penasaran.

IMG_0134

Rizki did answered: “f**k you, where the hell is that?”. Funny, since he used to ride this route about once a month at least.

Rizki membalas “Fakyu, dimana itu?”. Lucu, soalnya jalur ini rute yang dia lewati paling ngga sebulan sekali kalau pulang ke Indramayu.

IMG_0291

With Rizki’s reaction to the photo, I realized something. Sometimes, we run so fast that we skipped many details that are actually beautiful. It’s a good thing to slow our tempo and just enjoy the moment when the time is just right.

Dengan reaksi Rizki barusan, saya sadar akan sesuatu. Kadang kita berlari begitu cepat hingga melewatkan banyak detail yang sesungguhnya indah. Kadang kita perlu menurunkan tempo dan menikmati momen yang tepat.

DRY AND DUSTY CIKAMURANG firly sunset Kawasaki KR150 shootupnride.com

The term “beautiful” might different to everyone. But for some people like us, a cup (or 3 cups) of coffee behind a corner with not much traffic is more than enough to escape the day. Well, coffee, comrades, and camera. Can I ask for more?

In fact, I secretly thinking to have another coffee here sometime later. For now, just enjoy the moment, and beat the shutter.

Kata “indah” mungkin memiliki makna yang berbeda bagi tiap orang. Tapi untuk kami, segelas (atau 3 gelas) kopi di balik tikungan yang traffic-nya ngga ramai sudah lebih dari cukup untuk melepas penat. Well, kopi, kawan, dan kamera. Can I ask for more?

Sebenernya, saya sudah memikirkan untuk ngopi disini lagi kapan-kapan. Untuk saat ini, mari nikmati momennya dan siksa shutternya.

9 Comments

  1. Kalau gak salah itu jalur yang dari arah Subang tembus ke arah jalannya Cadas Pangeran itu ya? Tempo hari belum lama lewat sana, pas mau ke Majalengka juga. Sayangnya naik mobil… :(

    Btw naksir euy sama fotonya Rizki yang lagi boncengan sama Firly lagi di sunset…

    Dan… Happy Wedding Rizki!

    • yup, keluar di Tomo.
      Mau coba bikin yang serupa dha? ga ada yg aneh-aneh kok di prosesnya.

  2. It’s always a regular day turned into happy days when you’re updating an article. Keep it up.
    Too bad we can’t meet up when I was in Bandung last weekend.

    • Gotta say it again. Article have a punctuality value, which obviously we don’t. Hahaha..
      Stories, mate, stories! :D

      Yeah, too bad ma.. but sure, there will always be the right time coming!

  3. aihh…..masuk SnR,hatur tengkyu mamang dhey

    okeh…..itu jalur dulu sbnrnya bukan jalurnya yg enak dipake foto2 lantaran sepi, gersang, debu…..ga ada yang menarik

    satu hal yg hanya terpikirkan tiap lewat jalur itu gmana caranya secepat mgkn riding dan tidak berlama2 disana
    …dan terlewatlah beberapa pemandangan (yang dulu ga ada karena dulu masih hutan belantara kayak di sumatra) karena terlalu fokus ke jalanan.

    yaah terkadang saking seriusnya kita ama sesuatu, terlewatkan juga bbrp hal, momen, kesempatan indah yg tak kita sadari disekeliling kita

  4. Waktu masih rimbun malah mirip deal’s gap lho Ki. Dan setelah beberapa waktu, aku cari-cari spot yang mirip itu, udah hilang dong! dem! tapi yah, this is what we can provide so far :)

  5. beh…

    keren, jadi pengen foto prewed… *eh

    Foto terakhir keren :D

    • well, firly punya yang serupa, tapi versi saya yang difoto mas, hahaha.
      nah, yang ini dari hati pasti, huahaaha..

Submit a comment